Friday, November 24, 2017

Foto Pertempuran El Alamein

PERTEMPURAN KEDUA EL ALAMEIN (23 OKTOBER - 11 NOVEMBER 1942)

Posisi pertahanan dari meriam PaK 38 50mm (L/60) (5 cm Panzerabwehrkanone 38 (L/60)) milik Panzergrenadier-Regiment 125 / 164.leichte Afrika-Division di El Alamein, Mesir, bulan Oktober 1942. Ritterkreuzträger Oberstleutnant Karl Ens (kiri) menginspeksi hasil jaring kamuflase yang telah ditutupkan di atas batu-batu gurun beserta meriamnya. Sang perwira Wehrmacht dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 14 Mei 1941 sebagai Major dan Kommandeur II.Bataillon / Infanterie-Regiment 125 (motorisiert). Dalam Perang Dunia Pertama, Ens menjadi Leutnant di Baden Grenadier-Regiment dan mendapatkan medali 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse, Ritterkreuz des Königlichen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern, Baden Militär-Karl-Friedrich-Verdienstorden Ritterkreuz, Baden Orden vom Zähringer Löwen Ritterkreuz II. Klasse, serta Verwundetenabzeichen 1918 in Silber. Pangkat terakhir Ernst dalam Perang Dunia II adalah Oberst. Dia dinyatakan MIA (Missing in Action) pada tanggal 15 April 1945, dan akhirnya secara resmi dinyatakan telah meninggal oleh AG Baiersbronn pada tanggal 11 Desember 1957. Foto ini sendiri diambil oleh Kriegsberichter Dohm



Sumber :
www.audiovis.nac.gov.pl
www.ritterkreuztraeger.blogspot.com

Foto 164. leichte Afrika-Division


---------------------------------------------------------------------------------

Posisi pertahanan dari meriam PaK 38 50mm (L/60) (5 cm Panzerabwehrkanone 38 (L/60)) milik Panzergrenadier-Regiment 125 / 164.leichte Afrika-Division di El Alamein, Mesir, bulan Oktober 1942. Ritterkreuzträger Oberstleutnant Karl Ens (kiri) menginspeksi hasil jaring kamuflase yang telah ditutupkan di atas batu-batu gurun beserta meriamnya. Sang perwira Wehrmacht dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 14 Mei 1941 sebagai Major dan Kommandeur II.Bataillon / Infanterie-Regiment 125 (motorisiert). Dalam Perang Dunia Pertama, Ens menjadi Leutnant di Baden Grenadier-Regiment dan mendapatkan medali 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse, Ritterkreuz des Königlichen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern, Baden Militär-Karl-Friedrich-Verdienstorden Ritterkreuz, Baden Orden vom Zähringer Löwen Ritterkreuz II. Klasse, serta Verwundetenabzeichen 1918 in Silber. Pangkat terakhir Ernst dalam Perang Dunia II adalah Oberst. Dia dinyatakan MIA (Missing in Action) pada tanggal 15 April 1945, dan akhirnya secara resmi dinyatakan telah meninggal oleh AG Baiersbronn pada tanggal 11 Desember 1957. Foto ini sendiri diambil oleh Kriegsberichter Dohm



Sumber :
www.audiovis.nac.gov.pl
www.de.wikipedia.org
www.ritterkreuztraeger.blogspot.com

Thursday, November 23, 2017

Update! DVD Film Perjuangan Terbaru (November 2017)

CARA PEMBELIAN :

Isi formulir di bawah ini :

Nama lengkap : 
Alamat lengkap :
Judul yang dipesan :

Kirimkan melalui SMS/WA ke 0856-2007755, atau bisa juga melalui email ke alifrafikkhan@gmail.com.

Untuk pembayaran ke BCA 3770149389 atau MANDIRI 9000003384550 a/n ALIF RAFIK KHAN

Keterangan :
  • Film dalam format DVD (bisa diputar di player atau komputer)
  • Film dikemas dalam box, lengkap dengan cover dan label
  • Rata-rata 1 DVD untuk 1 judul film (kecuali ada keterangan tambahan)
  • Rata-rata merupakan copy dari ORI, jadi kualitas gambar terjamin
  • Harga Rp 30.000/DVD. Pembelian 6 DVD ke atas diskon Rp 5.000 jadi Rp 25.000/DVD
  • Harga dihitung per-DVD bukan per-judul. Contoh: bila ada satu judul terdiri dari 2 DVD, maka harganya adalah untuk 2 DVD
  • Minimal pembelian: 2 DVD (Jawa) dan 4 DVD (luar Jawa)
  • Harga SUDAH TERMASUK ongkir, jadi tidak ada tambahan biaya macam-macam
  • Untuk jasa ekspedisi rata-rata menggunakan JNE OKE/REG (Jawa) dan PT. POS (luar Jawa)
  • Setiap DVD yang dikirimkan akan dicek terlebih dahulu untuk mengetahui kualitasnya
  • Bila kerusakan akibat kesalahan ekspedisi, maka di luar tanggung jawab pengirim. Tapi bila kerusakan akibat kesalahan pengirim, maka DVD bisa diretur untuk diganti dengan yang baru (judul sama)
  • Terakhir: bila ada yang ragu-ragu takut ini penipuan atau yang lainnya, maka silakan dilihat bahwa blog ini telah eksis dari tahun 2008, dan sejak itu pula saya berkecimpung di bidang ini. Nomor HP saya tidak pernah ganti, begitu juga dengan nomor rekening.
---------------------------------------------------------------------


BUTET - PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI (1974)
Separuh pertama dari film merupakan kisah balik tokoh Ibu yang bercerita pada Butet, yang akan berangkat ke Jakarta untuk ikut pamannya. Ceritanya tentang perjuangan ayahnya, Darma, selama perang kemerdekaan. Sisanya adalah perjalanan hidup Butet yang penuh cobaan, sehingga pada akhirnya membawa kisah sang Ibu berulang pada anaknya


FATAHILLAH (1997)
Kecewa ketika melihat negerinya, Pasai, dihancurkan oleh Portugis, Fadhilah Khan - yang kemudian dikenal sebagai Fatahillah atau Falatehan - bergabung dengan Sultan Trenggono yang memerintah Kesultanan Demak untuk bersama-sama menyerang benteng Portugis di Sunda Kelapa. Berhasilkah usaha mereka melawan kekuatan Eropa ini?


MAX HAVELAAR (1975)
Sebagaimana buku aslinya, ada maksud sutradara untuk menggugat sistem kolonial saat itu. Havelaar (Peter Faber) dilukiskan sebagai tokoh idealis yang sangat mencintai istri dan anaknya. Dia selalu menentang ketidakadilan yang terjadi di depan matanya. Di tempat ia diangkat sebagai asisten residen di Lebak, ternyata ia tidak hanya berhadapan dengan Belanda, tapi juga penguasa lokal, Bupati Lebak (Elang Adenan Soesilaningrat) yang menyalahgunakan kekuasaan dan memeras rakyat


NAGABONAR (1986)
Sebuah kisah kocak lagi satir tentang kepahlawanan dengan latar belakang zaman perang kemerdekaan. Naga Bonar, seorang bekas tukang copet tanpa pendidikan yang naif. Rasa setia kawannya besar, tapi nekat dan jujur. Ia mengangkat dirinya menjadi komandan sebuah laskar dan berjuang melawan Belanda. Ia juga terlibat cinta dengan Kirana, gadis anak dokter yang lebih memilih untuk berpihak kepada Belanda


PENJEBERANGAN (1963)
Di awal 1949, sepasukan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur mendapatkan tugas bersama Tentara Republik Indonesia (TRI, kemudian TNI) untuk membawa meriam "Banteng Blorok" dari Trenggalek. Penyeberangan melintasi kali Brantas itu mengalami berbagai hambatan. Intaian mata-mata musuh, serangan pasukan Belanda dan lain-lain. Setelah menyebabkan jatuhnya beberapa korban, akhirnya "Banteng Blorok" itu berhasil diseberangkan. Untuk selanjutnya dibawa ke tempat di mana meriam tersebut dimanfaatkan untuk menggempur musuh di kota Malang. Kisah disajikan lewat tokoh Sampurno dan Puji, anggota TRIP yang ditugaskan memberi tahu dan menjemput meriam tersebut. Lewat dua tokoh ini situasi sosial zaman itu tampil, termasuk pikiran-pikiran tentang kepahlawanan, revolusi dll.


SANG PENARI (2011)
Sebuah cerita cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Jawa Tengah pada pertengahan tahun 1960-an. Rasus, seorang tentara muda, menyusuri kampung halamannya untuk mencari cintanya yang hilang: Srintil. Sebelumnya, ketika keduanya masih belia dan saling jatuh cinta di kampung mereka yang kecil dan miskin, Dukuh Paruk, sesuatu menghalangi cinta mereka. Kemampuan menari Srintil yang magis membuat para tetua dukuh percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng. Tragedi terjadi, ketika kampung Dukuh Paruk terlibat dalam organisasi terlarang (PKI), dan TNI diperintahkan untuk membersihkannya


SI PITUNG (1970)
Ia bak koboi yang menyelesaikan satu masalah lalu pergi tanpa meminta timbal balik. Si Pitung, yang berguru pada H. Naipin, mendapat kekuatan untuk melawan penindasan yang dilakukan oleh para tuan tanah terhadap rakyat kecil. Dengan bantuan sahabatnya, Djiih, ia menghajar centeng-centeng bayaran para tuan tanah, begitu juga opas-opas kompeni. Komandan polisi kompeni di wilayah tersebut kemudian mencari segala cara untuk mengatasi perlawanan Pitung. Akan berhasilkah usahanya?


SI PITUNG 2 - BANTENG BETAWI (1971)
Lanjutan dari film pertama (Si Pitung) yang keluar setahun sebelumnya, dalam film ini Si Pitung bersama dengan istri barunya dikejar-kejar oleh opsir Belanda yang cerdik Heyne Scott serta Demang Meester yang jatuh hati pada istri Pitung. Masalah baru muncul ketika muncul perampok yang mengatasnamakan Pitung sehingga membuat nama sang jawara Betawi tercemar


SI PITUNG - PEMBALASAN SI PITUNG JIIH (1977)
Setelah si Pitung gugur, muncullah Ji'ih sebagai pendekar baru yang menuntut balas kematiannya. Sepak terjangnya tak jauh beda dengan si Pitung sehingga membuat repot Kompeni. Untuk bisa menangkapnya, Kompeni menangkap Siti, pacar Jiih. Jiih tak kehabisan akal. Ia culik pula istri Scott Heyne. Kedua orang musuh bebuyutan ini berduel sampai akhir. Siapakah pemenangnya?


SI PITUNG BERAKSI KEMBALI (1981)
Ada keinginan untuk menghidupkan kembali Si Pitung, namun tak begitu jelas terlukis. Yang jelas, kini dia menggalang kerja sama dengan Haji Naipin dan Keluarga Lie dan Goan. Akibatnya, Belanda kembali kerepotan sehingga berusaha menangkap Pitung lagi, hidup atau mati. Usaha itu tak kunjung berhasil. Sementara itu dikisahkan pula perseteruan dua keluarga Cina. Yang satu memihak Pitung, sementara yang lain memihak Kompeni. Sempat juga digambarkan Cina yang memeluk Islam. Karena kerepotan, akhirnya Kompeni menggunakan jasa Mat Petir, murid seperguruan yang sama sakti dan kebal peluru


SI RONDA MACAN BETAWI (1978)
Sebuah kisah dalam tradisi lenong: ada jagoan silat dan pacarnya, di pihak lain ada tuan tanah pemeras yang didukung sekelompok jagoan lain, dengan latar belakang zaman pendudukan Belanda. Si Ronda, jagoan dari Marunda, punya pacar Ipe, yang tanah dan usaha bengkel besi ayahnya, Hasan, ditekan agar dijual pada tuan tanah De Boer, lewat dukungan Lihun dan polisi setempat. Ini terjadi juga pada rakyat di sekitarnya. Si Ronda mula-mula membalas bak Robin Hood. Dengan topeng merampok harta De Boer. Ketika ketahuan, maka konfrontasi tak terhindarkan. Namun, situasi sudah matang. Rakyat setempat bangkit membantu Si Ronda


SINGA KARAWANG BEKASI (2003)
Berlatarbelakang perang antara NICA/Sekutu melawan rakyat Cibening-Cakung di pertengahan bulan Oktober 1945. Saat itu para pejuang pemuda menawan 22 serdadu India serta empat awak pesawat Inggris yang mendarat di Rawa Gatel. Tampillah beberapa tokoh perjuangan, diantaranya adalah seorang Kyai bernama Noer Ali, pimpinan Laskar Hizbullah dan ulama yang mendirikan pesantren, Lukas Kustaryo dari Tentara Rakyat Indonesia, Bang Jole, jawara, Husein Kamali, intelektual. Ditampilkan pula beberapa tokoh fiktif sebagai pelengkap


SINGA LODAYA (1978)
Kisah sebuah pasukan Mobrig (Mobile Brigade) - nantinya menjadi Brimob - saat perjuangan kemerdekaan melawan penjajah Belanda serta penumpasan pemberontakan PKI Muso di Madiun tahun 1948. Dalam pasukan itu terselip kisah konflik antar anggota karena faktor iri hati dan dengki


SOEGIJA (2012)
Kisah renungan uskup pribumi pertama Indonesia, Monsinyur A Soegijapranata SJ, sejak ditahbiskannya hingga berakhirnya perang melawan Belanda (1940 – 1949). Satu dasawarsa penuh gejolak ini ditandai dengan akhir penjajahan Belanda, masuk dan berlangsungnya penjajahan Jepang, proklamasi kemerdekaan RI, serta kembalinya Belanda yang ingin menguasai Indonesia. Peristiwa-peristiwa ini tidak saja membuat Soegija menuliskan renungan berupa catatan harian yang penuh makna, tapi juga harus bertindak untuk mengatasi kekacauan yang membuat rakyat menderita. Ia mencoba berperan di tingkat lokal maupun politik nasional dan internasional.Tidak mengherankan, bila Presiden Soekarno memberi penghargaan dengan gelar Pahlawan Nasional

Monday, November 20, 2017

Winterhilfswerk (Bantuan Musim Dingin)



Oleh : Alif Rafik Khan

Winterhilfswerk des Deutschen Volkes (Bantuan Musim Dingin Rakyat Jerman), lebih dikenal sebagai Winterhilfswerk (WHW) atau Kriegswinterhilfswerk (masa Perang Dunia II), adalah acara berkala yang diselenggarakan oleh Nationalsozialistische Volkswohlfahrt (Organisasi Kesejahteraan Rakyat Nasional-Sosialis) untuk membantu rakyat Jerman yang kurang mampu disaat musim dingin tiba. Slogannya adalah "Tak ada yang akan kelaparan atau kedinginan". Program ini sendiri sebenarnya telah dimulai oleh pemerintahan Heinrich Brüning pada tahun 1931, tapi kemudian Hitler mengambil alihnya dan mengklaim sebagai acaranya sendiri dari tahun 1933 s/d 1945. Acara ini  biasa diselenggarakan dari bulan Oktober s/d Maret, dan bertujuan untuk menyediakan sandang dan pangan untuk masyarakat Jerman yang kurang mampu pada saat musim dingin melanda.

---------------------------------------------------------------------------------

 Acara yang diselenggarakan oleh Winterhilfswerk (WHW) 1940/41 di Berliner Sportpalast tanggal 16 Februari 1941 dengan dihadiri oleh satuan polisi Denmark. Dari kiri ke kanan: Polizeioberst Dahl (Kepala Kepolisian Denmark), Dr. Karl Ritter von Halt (Präsident des Nationalen Olympischen Komitees, NOK), SS-Gruppenführer Reinhard Heydrich, Reichsführer-SS Heinrich Himmler, SS-Obergruppenführer und General der Polizei Kurt Daluege, dan SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Karl Wolff 


Foto ini berukuran 181 x 129mm dan memperlihatkan para anggota Wehrmacht bertepuk tangan saat Adolf Hitler berpidato dalam acara inaugurasi Kriegswinterhilfswerk 1942/43 (Bantuan Musim Dingin Masa Perang 1942/43). Semua wakil dari cabang Wehrmacht ikut hadir, termasuk pula sebagian Ritterkreuzträger-nya yang kebetulan sedang cuti bertugas di front pertempuran. Dalam foto ini setidaknya kita bisa melihat dua orang diantaranya: SS-Sturmbannführer Karl Schlamelcher (Ritterkreuz tanggal 1 Maret 1942 sebagai SS-Sturmbannführer dan Führer III.Abteilung / SS-Artillerie-Regiment 5 / SS-Division [motorisiert] "Wiking") di sebelah kiri, serta Feldwebel Wilhelm Kempke (Ritterkreuz tanggal 21 Agustus 1941 sebagai Feldwebel dan Gruppenführer di 1.Kompanie / I.Bataillon / Fallschirmjäger-Sturm-Regiment / 7.Flieger-Division) di sebelah tengah



Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman

Wednesday, November 15, 2017

Mobil Hanomag

Generalleutnant Hellmuth Reymann (kanan) bersama dengan dua orang perwira Wehrmacht lainnya. Di belakangnya terparkir sebuah Hanomag 1.3 liter, sebuah mobil yang pertama kali diperkenalkan pada musim semi 1939 oleh pabrikan Hanomag asal Jerman. Sekilas bila dilihat dari depan dan belakang, mobil ini mirip dengan VW Beetle, hanya saja mempunyai panjang yang lebih dibandingkan dengan pesaingnya dari Volkswagen tersebut, sehingga terlihat perbedaannya bila dilihat dari samping



Sumber :
www.forum.axishistory.com
www.historicalwarmilitariaforum.com

Tuesday, November 14, 2017

Foto 1. Schnellbootflottille

14 Agustus 1940: Kapitän zur See Hans Bütow (kanan, Führer der Torpedoboote) mengajak bersulang para perwiranya dalam perayaan penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Oberleutnant zur See Kurt Fimmen (kiri, Kommandant S 26 in der 1.Schnellbootflottille) serta Oberleutnant zur See Götz Freiherr von Mirbach (Kommandant S 21 in der 1.Schnellbootflottille). Yang paling berbahagia tentu saja adalah pimpinan dua orang tersebut, Kapitänleutnant Heinz Birnbacher (Chef 1.Schnellbootflottille), yang berdiri di tengah. Dia terlebih dahulu mendapatkan medali yang sama pada tanggal 17 Juni 1940. Foto diambil dari koleksi pribadi Kapitän zur See (Bundesmarine) Karl-Friedrich Künzel, mantan Kommandant S 28 / 1.Schnellbootflottille dalam Perang Dunia II


Sumber :
www.s-boot.net

Foto Grup Kriegsmarine

Para staff Flottenkommando / Marinegruppenkommando Ost (masa bakti Mei 1943 s.d Maret 1945) berfoto bersama di atas kapal komando 'Hela', yang sedang berlabuh di Gotenhafen, bulan Agustus 1944. Baris depan, dari kiri ke kanan: Korvettenkapitän Heinz Schuur (3. Admiralstabsoffizier), Kapitän zur See Moritz Schmidt (2. Admiralstabsoffizier), Kapitän zur See Hans Marks (1. Admiralstabsoffizier), Kapitän zur See (V) Kurt Voigt (Flottenverwaltungsoffizier), Konteradmiral Richard Rothe-Roth (C), Generaladmiral Otto Schniewind (Flottenchef und Oberbefehlshaber der Marinegruppenkommando Nord), Admiralarzt Dr.-Med. Alois Evers (Arzt beim Flottenkommando), Oberstleutnant der Luftwaffe Julius Hansing (Luftwaffen-Verbundungsoffizier), Korvettenkapitän der Reserve Heinrich Dau (Referent für Handelsschiffe), serta Kapitänleutnant Gerhard Heilig (Flaggleutnant). Baris belakang, dari kiri ke kanan: Oberleutnant (M.A.) Müller (2. Flottensekretär), Korvettenkapitän (Ing.) Werner-Georg Kimmerling (2. Ingenieur-Offizier), Korvettenkapitän Günther Kern (4. Admiralstabsoffizier), Kapitänleutnant (V) Laser (1. Flottensekretär), Kapitänleutnant (W) Ernst Kumlin (Artillerie-Technischer Offizier), Kapitän zur See Dipl.-Ing. Wolfheinz Schäfer (Flotten-Ingenieur), Oberinspekteur Richter (Sekretär), serta Kapitänleutnant (N) Groh (A 4 A)


Sumber :
www.axishistory.com
www.historisches-marinearchiv.de
www.lexikon-der-wehrmacht.de

Sunday, November 12, 2017

U-380

Stabsobersteuermann Otto Biegalski dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold pada tanggal 7 Mei 1944 saat bertugas sebagai Obersteuermann di U-380 (Kapitänleutnant Albrecht Brandi). Dia sendiri mengabdi di kapal selam Tipe VIIC tersebut dari bulan Agustus 1942 s/d Januari 1944, dan ikut berpartisipasi dalam 11 patroli (259 hari di lautan). Pada saat mendapatkan DKiG, Biegalski sudah pindah ke U-boat lain. Selain U-380, Biegalski juga tercatat pernah bertugas di U-92, U-975, dan U-3530



Sumber :
Foto koleksi pribadi Gordon Williamson
www.historicalwarmilitariaforum.com

Postkarte (Kartu Pos) seri Verlag Ernst Steiniger

Postkarte (kartu pos) seri Verlag Ernst Steiniger yang diterbitkan pada masa Perang Dunia II mengkhususkan diri pada jenderal-jenderal tinggi Wehrmacht dengan pangkat Generaloberst serta Generalfeldmarschall. Inilah beberapa diantaranya:


Generalfeldmarschall Ernst Busch (6 Juli 1885 - 17 Juli 1945) bertempur sebagai perwira infanteri dalam Perang Dunia I di Front Barat, meraih Pour le mérite (4 Oktober 1918), dan kemudian tetap dipertahankan dalam organisasi Reichsheer setelah perang usai. Secara tetap karirnya makin menanjak, dan pada tahun 1936 sudah menjadi Generalmajor dan Komandan 23. Infanterie-Division. Selama berlangsungnya invasi Jerman ke Polandia, Busch menjadi Panglima VIII. Armeekorps. Pada tahun 1940 dia ditunjuk sebagai Panglima 16. Armee, dan memimpinnya dalam penyerbuan ke Prancis serta fase pertama pertempuran di Front Timur. Pada tahun 1943 Busch menjadi salah satu dari sedikit perwira tinggi Wehrmacht yang diangkat sebagai Generalfeldmarschall. Dia juga menjadi Panglima Heeresgruppe Mitte di Front Timur, tapi dipecat pada bulan Juni 1944 setelah komandonya hancur-lebur akibat Operasi Bagration yang dilancarkan oleh Soviet. Pada tahun 1945 dia menjadi Panglima Heeresgruppe Nordwest di Front Barat, dan kemudian menyerah pada pasukan Inggris di bulan Mei 1945. Tak lama kemudian Busch meninggal dalam tawanan Inggris karena sakit alami yang dideritanya. Medali dan penghargaan yang diperolehnya: Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 26 Mei 1940 sebagai General der Infanterie dan Oberbefehlshaber 16.Armee; Eichenlaub #274 pada tanggal 21 Agustus 1943 sebagai Generaloberst dan Oberbefehlshaber 16.Armee; 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (20 September 1914) und I.Klasse (6 Maret 1915); Ritterkreuz des Königlichen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern (14 Juni 1917); Verwundetenabzeichen 1918 in Silber (1918); Pour le mérite (4 Oktober 1918); Ehrenkreuz für Frontkämpfer (1 Januari 1935); Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV. bis I. Klasse (2 Oktober 1936); Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 mit Spange “Prager Burg”; 1939 Spange zum 1914 Eisernes Kreuz II. Klasse (18 September 1939) und I.Klasse (25 September 1939); Medaille “Winterschlacht im Osten 1941/1942“ (30 Juli 1942); Demjanskchild; serta Freiheitskreuz I. Klasse mit Stern und Schwertern Finlandia (29 Maret 1943). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht (6 Agustus 1941, 16 September 1941, 21 Oktober 1941, dan 28 Januari 1943). Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI



Sumber :


Foto 62. Infanterie-Division / 62. Volksgrenadier-Division

Pada bulan November 1944, Generalfeldmarschall Ernst Busch (tengah) melakukan inspeksi terakhir pada 62. Volksgrenadier-Division di tempat pelatihan mereka di Neuhammer, Silesia, Jerman (di dekat Breslau). Dalam waktu satu bulan, divisi yang masih fresh tersebut akan diberangkatkan ke wilayah perbatasan Belgia untuk ikut berpartisipasi dalam serangan kejutan Jerman di Ardennes. Paling kiri yang memakai stahlhelm adalah Oberst Dipl.-Ing. Friedrich Kittel (Kommandeur 62. Volksgrenadier-Division). Beberapa waktu sebelumnya dia terluka dalam pertempuran sehingga harus memakai celana panjang untuk menutupi sepatu setumit yang dikenakannya. Di sebelah kanan Kittel adalah Artur Axmann (Reichsjugendführer Hitlerjugend), dilanjutkan dengan Generalmajor Hans von Hanstein (General der Truppentechnik in Oberkommando des Heeres), dan Generalfeldmarschall Ernst Busch (Führer-Reserve). Busch memberi salam hormat pada para prajurit 62. Volksgrenadier-Division dengan interimstab-nya (tongkat komando)


Sumber :
www.forum.axishistory.com

Friday, November 10, 2017

Foto 29. U-Flottille (29. Unterseebootsflottille)

Jagoan kapal selam Jerman sekaligus Ritterkreuzträger (peraih medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes) dari 29. Unterseebootsflottille (29. U-Flottille) di La Spezia, Italia utara, antara bulan Agustus dan September 1942. Mereka semua memakai Weißer Dienstrock (seragam putih musim panas). Dari kiri ke kanan: Kapitänleutnant Friedrich Guggenberger (Kommandant U-81. Menenggelamkan 17 kapal dengan total tonase 66.848 GRT dari 10 patroli, 324 hari di lautan. Ritterkreuz tanggal 10 Desember 1941 dan Eichenlaub tanggal 8 Januari 1943), Kapitänleutnant Helmut Rosenbaum (Kommandant U-73. Menenggelamkan 9 kapal dengan total tonase 57.863 GRT dari 10 patroli, 265 hari di lautan. Ritterkreuz tanggal 12 Agustus 1942), Kapitänleutnant Heinrich Schonder (Kommandant U-77. Menenggelamkan 15 kapal dengan total tonase 29.368 GRT dari 12 patroli, 291 hari di lautan. Ritterkreuz tanggal 19 Agustus 1942), Kapitänleutnant Fritz Frauenheim (Flottillenchef 29. U-Flottille. Menenggelamkan 18 kapal dengan total tonase 78.248 GRT dari 9 patroli, 170 hari di lautan. Ritterkreuz tanggal 29 Agustus 1940), serta Kapitänleutnant Hans-Werner Kraus (Kommandant U-83. Menenggelamkan 8 kapal dengan total tonase 12.702 GRT dari 10 patroli, 292 hari di lautan. Ritterkreuz tanggal 19 Juni 1942)


Sumber :

Sunday, November 5, 2017

Foto Operasi Bagration

Para jenderal Wehrmacht berpose di depan sebuah rumah kayu di Rusia. Berdiri di baris depan, dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Ernst Busch (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Mitte), Generaloberst Walter Weiss (Oberbefehlshaber 2. Armee), Generalleutnant Hans Krebs (Chef des Generalstabes Heeresgruppe Mitte), General der Infanterie Friedrich Hoßbach (Kommandierender General LVI. Panzerkorps), General der Artillerie Rudolf Freiherr von Roman (Kommandierender General XX. Armeekorps), dan Generalleutnant Hans Speth (Führer-Reserve Oberkommando des Heeres). Berdiri persis di belakang Weiss adalah Generalleutnant Gustav Harteneck (Kommandeur 72. Infanterie-Division). Foto ini diambil di wilayah tengah Front Timur pada bulan Mei 1944 oleh Kriegsberichter Thiemann dari Propaganda-Kompanie 670. Hanya berselang satu bulan kemudian, wilayah yang berada di bawah komando Heeresgruppe Mitte ini berantakan setelah Tentara Merah melancarkan Operasi Bagration!



Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.bundesarchiv.de

Foto Kettenkrad

Dua orang perwira tinggi sedang Jerman asyik jalan-jalan di bonbin Gembiraloka sambil menaiki Kettenkrad dengan plat nomor WH (Wehrmacht Heer) 522585. Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Rudolf-Eduard Licht dan Generalfeldmarschall Ernst Busch. Tidak ada keterangan kapan dan dimana foto ini diambil, meskipun dari kondisi alamnya ada kemungkinan dibuat di Front Timur saat musim gugur/semi berlangsung. Pangkat yang tertera adalah pangkat terakhir kedua jenderal tersebut


Seorang prajurit Jerman, dengan muka "ditekuk", berusaha menyeberangi lautan lumpur di Front Timur dengan menggunakan kendaraan NSU Kleines Kettenkraftrad HK 101 (Sd.Kfz 2). Foto ini diambil saat Unternehmen Barbarossa di bulan Agustus 1941. Walaupun musim gugur belum datang, tapi kondisi jalan umumnya yang luar biasa buruk membuat gerak maju pasukan Wehrmacht ke arah timur menjadi terhambat. Foto oleh Kriegsberichter Siedel


Konvoy pasukan Jerman di wilayah barat-laut Kaukasus, bulan Desember 1942. Di sebelah kiri adalah barisan NSU Kleines Kettenkraftrad HK 101 (Sd.Kfz 2), sementara di kanannya adalah kereta-kereta perbekalan kecil yang ditarik kuda... Sesuatu yang tidak terbayangkan di jalan sekecil ini bila yang berpapasan adalah kendaraan roda empat yang berukuran lebih besar. Foto oleh Kriegsberichter Koch


Sepeda motor beroda rantai NSU Kleines Kettenkraftrad HK 101 (Sd.Kfz 2), lebih dikenal dengan nama Kettenkrad, bergerak melewati sebuah tanjakan bersalju di Front Timur, bulan Januari 1943. Kendaraan segala-medan ini dapat membawa tiga orang - satu di depan dan dua di belakang - serta biasanya digunakan sebagai alat transportasi, pengangkut peralatan, serta memasang kabel komunikasi. Foto oleh Kriegsberichter Rieder


Prajurit Wehrmacht yang bertugas sebagai Kradmelder (pembawa pesan) ini terbunuh saat kendaraan Sd.Kfz 2 Kettenkrad-nya mendapat berondongan senapan mesin oleh musuh. Tidak ada keterangan tambahan lain, tapi foto ini kemungkinan besar diambil di Rusia saat musim "rasputitsa" (berlumpur) tiba. Kettenkrad sendiri merupakan salah satu kendaraan paling aneh dalam Perang Dunia II, yang merupakan perpaduan antara sepeda motor dengan tank!


Sumber :
www.audiovis.nac.gov.pl
www.wehrmacht-awards.com

Pidato Ritterkreuzträger Kriegsmarine untuk Hitlerjugend (16 Juni 1943)


Acara yang merupakan hasil kerjasama antara Hitlerjugend dengan Kriegsmarine ini diberi nama "Die Ritterkreuzträger der Kriegsmarine Rede an die Hitlerjugend" (Pidato Peraih Ritterkreuz dari Kriegsmarine untuk Hitlerjugend), dan digelar di aula Sportpalast Berlin pada tanggal 16 Juni 1943. Sebagai pembuka, tampak panji-panji dan bendera Kriegsmarine diarak menuju tempat acara dilangsungkan 


 
Acara yang merupakan hasil kerjasama antara Hitlerjugend dengan Kriegsmarine ini diberi nama "Die Ritterkreuzträger der Kriegsmarine Rede an die Hitlerjugend" (Pidato Peraih Ritterkreuz dari Kriegsmarine untuk Hitlerjugend), dan digelar di aula Sportpalast Berlin pada tanggal 16 Juni 1943. Figur yang teridentifikasi dalam foto ini: (1) Admiral Walter Warzecha (Chef des Allgemeinen Marinehauptamtes), (2) Kapitän zur See Kurt Thoma (Chef Abteilung K III M im Oberkommando der Marine), (3) Reichsjugendführer Artur Axmann, serta (6) Kapitänleutnant Reinhard Hardegen (Kommandant U-123)


 
Acara yang merupakan hasil kerjasama antara Hitlerjugend dengan Kriegsmarine ini diberi nama "Die Ritterkreuzträger der Kriegsmarine Rede an die Hitlerjugend" (Pidato Peraih Ritterkreuz dari Kriegsmarine untuk Hitlerjugend), dan digelar di aula Sportpalast Berlin pada tanggal 16 Juni 1943. Figur yang teridentifikasi dalam foto ini: (3) Kapitänleutnant Reinhard Hardegen (Kommandant U-123), (7) Kapitän zur See Kurt Thoma (Chef Abteilung K III M im Oberkommando der Marine), serta (8) Admiral Walter Warzecha (Chef des Allgemeinen Marinehauptamtes)


Acara yang merupakan hasil kerjasama antara Hitlerjugend dengan Kriegsmarine ini diberi nama "Die Ritterkreuzträger der Kriegsmarine Rede an die Hitlerjugend" (Pidato Peraih Ritterkreuz dari Kriegsmarine untuk Hitlerjugend), dan digelar di aula Sportpalast Berlin pada tanggal 16 Juni 1943. Dalam foto ini kita bisa melihat dekorasi panggung yang megah, dan juga membludaknya penonton yang hadir. Di tengah terpasang lambang raksasa U-Boot-Kriegsabzeichen (Medali Perang Kapal Selam), satuan senyap bawah laut yang menjadi primadona Kriegsmarine serta penyumbang terbanyak para peraih Ritterkreuz untuk Angkatan Laut Jerman


Acara yang merupakan hasil kerjasama antara Hitlerjugend dengan Kriegsmarine ini diberi nama "Die Ritterkreuzträger der Kriegsmarine Rede an die Hitlerjugend" (Pidato Peraih Ritterkreuz dari Kriegsmarine untuk Hitlerjugend), dan digelar di aula Sportpalast Berlin pada tanggal 16 Juni 1943. Kapitänleutnant Reinhard Hardegen tampak sedang berbicara di podium. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 23 Januari 1942 serta Eichenlaub #89 pada tanggal 23 April 1942, keduanya saat bertugas sebagai Komandan U-123


Acara yang merupakan hasil kerjasama antara Hitlerjugend dengan Kriegsmarine ini diberi nama "Die Ritterkreuzträger der Kriegsmarine Rede an die Hitlerjugend" (Pidato Peraih Ritterkreuz dari Kriegsmarine untuk Hitlerjugend), dan digelar di aula Sportpalast Berlin pada tanggal 16 Juni 1943. Para anggota muda Hitlerjugend dengan serius mendengarkan saat Eichenlaubträger Kapitänleutnant Reinhard Hardegen (Kommandant U-123) sedang berbicara di podium



Sumber :
www.audiovis.nac.gov.pl
www.ritterkreuztraeger.blogspot.com

Sunday, October 29, 2017

Staatsbegräbnis (Upacara Pemakaman Kenegaraan)



DAFTAR STAATSBEGRÄBNIS MASA THIRD REICH :

24.01.1934 Architekt Paul Ludwig Troost (arsitek pribadi Hitler)
07.08.1934 Reichspräsident Paul von Hindenburg
19.09.1934 Edwin Bechstein (industrialis Jerman pendukung Hitler)
12.12.1934 SA-Gruppenführer Gustav Zunkel
26.10.1935 Gauleiter Wilhelm Friedrich Loeper
12.02.1936 Wilhelm Gustloff (tokoh Nazi Swiss)
15.04.1936 Leopold von Hoesch (Duta Besar Jerman untuk Inggris)
20.05.1936 SS-Oberführer Julius Schreck (pengawal pribadi Hitler)
03.06.1936 General der Infanterie a.D. Karl Litzmann (simpatisan Nazi veteran Perang Dunia I)
22.12.1937 General der Infanterie a.D. Erich Ludendorff (simpatisan Nazi veteran Perang Dunia I)
30.09.1938 General der Infanterie a.D. Alfred Krauss
17.11.1938 Ernst vom Rath (Diplomat Jerman)
18.02.1939 Gauleiter Hubert Klausner
28.06.1939 General der Kavallerie Wilhelm Knochenhauer
23.09.1939 Generaloberst Werner Freiherr von Fritsch
10.11.1939 Delapan orang korban bom Bürgerbräukeller
08.04.1940 General der Artillerie Prof. Dr. Karl Becker
24.08.1940 Paul Nipkow (pelopor siaran televisi yang juga anggota Partai Nazi)
11.10.1940 Admiral a.D. Adolf von Trotha
02.02.1941 Reichsminister Franz Gürtner 
20.02.1941 SA-Obergruppenführer Hermann Kriebel
04.03.1941 Vizeadmiral Lothar von Arnauld de la Perière (jagoan U-boat zaman Perang Dunia I)
30.03.1941 Generaloberstabsarzt Prof. Dr. med. Anton Waldmann
06.09.1941 Hugo Bruckmann (penerbit publikasi Nazi)
22.11.1941 Generaloberst (Luftwaffe) Ernst Udet
28.11.1941 Oberst Werner Mölders (jagoan udara Luftwaffe)
14.12.1941 Char. Generalfeldmarschall Eduard Freiherr von Böhm-Ermolli
16.12.1941 Reichsminister Hanns Kerrl
22.01.1942 Generaldirektor August Diem
23.01.1942 Generalfeldmarschall Walther von Reichenau
04.02.1942 SA-Obergruppenführer Georg Hofmann
12.02.1942 Reichsminister Dr. Fritz Todt
18.03.1942 Wehrwirtschaftsführer Robert Bosch (industrialis Jerman)
14.05.1942 General der Infanterie z.V. Fritz von Lossberg
22.05.1942 Gauleiter Carl Röver
06.06.1942 SS-Obergruppenführer Reinhard Heydrich
21.06.1942 NSKK-Korpsführer Adolf Hühnlein
10.08.1942 General der Flieger Hermann von der Lieth-Thomsen
07.11.1942 Reichsminister Ludwig Siebert
29.03.1943 Reichssportführer Hans von Tschammer und Osten
07.05.1943 SA-Stabschef Viktor Lutze
13.05.1943 General der Infanterie Walter von Brockdorff-Ahlefeldt
22.08.1943 Generaloberst Hans Jeschonnek
27.09.1943 Generalkommissar Wilhelm Kube
04.02.1944 SS-Brigadeführer Franz Kutschera
26.04.1944 Generaloberst Hans-Valentin Hube
27.04.1944 Gauleiter Adolf Wagner
00.07.1944 SS-Gruppenführer Wilhelm Grimm
03.08.1944 Generaloberst (Luftwaffe) Günther Korten
04.10.1944 Gauleiter Joseph Bürckel
09.10.1944 General der Infanterie Rudolf Schmundt (ajudan Hitler)
11.10.1944 Major Helmut Lent (jagoan udara Luftwaffe)
18.10.1944 Generalfeldmarschall Erwin Rommel
14.11.1944 Major Walter Nowotny (jagoan udara Luftwaffe)
20.01.1945 SS-Gruppenführer Josef Fitzthum
28.03.1945 SS-Obersturmbannführer Hans Dorr (Schwerterträger)
15.05.1945 Kapitän zur See Wolfgang Lüth (jagoan U-boat)



Sumber :

Friday, October 27, 2017

Chef des Regiments (Komandan Resimen Kehormatan)

Desember 1936: Mantan Chef des Heeresleitung masa Reichswehr - dan orang yang paling berjasa dalam pengembangan militer Jerman di masa sebelum Nazi - Generaloberst z.V. Hans von Seeckt, mengadakan kunjungan ke markas Infanterie-Regiment 67 dimana dia diangkat menjadi Komandan Kehormatan atau Chef des Regiment (Seeckt sendiri mengenakan insignia Chef des Regiment dan bukannya insignia jenderal). Disini dia (berdiri di tengah menghadap kamera) sedang memperhatikan komandan upacara yang juga merupakan komandan Infanterie-Regiment 67, Oberst Ernst Seifert. Di sebelah kiri adalah Generalmajor Ernst Busch (Kommandeur 23. Infanterie-Division), sedangkan di sebelah kanan adalah Generaloberst Werner Freiherr von Fritsch (Oberbefehlshaber des Heeres). Dari tanggal 15 Oktober 1935, Infanterie-Regiment 67 (Seifert) berada di bawah komando 23. Infanterie-Division (Busch). Kemungkinan besar foto ini diambil pada saat upacara penganugerahan Chef des Regiment untuk Generaloberst Seeckt.

-------------------------------------------------------------------------



Oleh : Alif Rafik Khan

Di dalam tubuh Angkatan Bersenjata Jerman, Secara umum terdapat dua cara penghormatan yang dijadikan pertimbangan untuk  mengikutsertakan jenderal yang telah pensiun ke dalam Rangliste (daftar pangkat aktif) sebuah unit militer:

1. Chef eines Regiments 
2. die Uniform eines Regiments tragen 

Kekhususan ini hanya berlaku untuk jenderal dengan pangkat tiga bintang ke atas, apakah dengan paten/resmi ataukah hanya gelar saja. Jenderal tiga bintang paling senior (paten penuh) yang tidak terdaftar, baik dalam Rangliste pra 1933 atau Stellenbesetzung keluaran 3 Januari 1939, adalah General der Artillerie Freiherr Kreß von Kressenstein (Friedrich) 

Inilah daftar para Chef des Regiments serta die Uniform eines Regiments yang terdapat dalam Rangliste pra 1933 atau Stellenbesetzung keluaran 3 Januari 1939:

-------------------------------------------------------------------------

CHEF DES REGIMENTS

22.04.1936 Generaloberst Hans von Seeckt: Chef des Infanterie-Regiments 67
09.08.1936 Generalfeldmarschall August von Mackensen: Chef des Kavallerie-Regiments 5
13.03.1937 Generalfeldmarschall Werner von Blomberg: Chef des Infanterie-Regiments 73
15.06.1938 Generaloberst Werner Freiherr von Fritsch: Chef des Artillerie-Regiments 12
16.10.1938 General der Infanterie Franz Ritter von Epp: Chef des Infanterie-Regiments 61
01.11.1938 Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt: Chef des Infanterie-Regiments 18
05.07.1940 Generaloberst Günther Rüdel: Chef des Flak-Regiments 5
31.10.1940 Generalfeldmarschall Eduard von Böhm-Ermolli: Chef des Infanterie-Regiments 28
00.00.19__ General der Artillerie Richard von Berendt: Chef des Artillerie-Regiments 59  
00.00.19__ Generalfeldmarchall Ewald von Kleist: Chef des Kavallerie-Regiments 8 
00.00.19__ General der Infanterie Curt Liebmann: Chef des Infanterie-Regiments 5 

-------------------------------------------------------------------------

DIE UNIFORM EINES REGIMENTS TRAGEN

01.10.1920 General der Infanterie Walter von Hülsen : 15. Infanterie-Regiment
01.10.1920 General der Infanterie Walter von Bergmann : 6. Infanterie-Regiment
01.09.1921 General der Artillerie Richard von Berendt : 3. (Preußisches) Artillerie-Regiment
01.01.1923 General der Infanterie Arnold Ritter von Möhl : 20. (Bayerische) Infanterie-Regiment
01.01.1925 General der Infanterie Walter Reinhardt : 13. (Württembergische) Infanterie-Regiment
01.01.1925 General der Kavallerie Maximilian von Poseck : 6. (Preußisches) Reiter-Regiment
01.01.1926 Generaloberst Hans von Seeckt : 9. (Preußisches) Infanterie-Regiment
01.10.1926 General der Infanterie Friedrich von Loßberg : 9. (Preußisches) Infanterie-Regiment
01.02.1927 General der Artillerie Rudolf Bleidorn : 5. Artillerie-Regiment
01.02.1927 General der Infanterie Ernst Hasse : Infanterie-Regiment 4
01.11.1927 General der Infanterie Erich von Tschischwitz : 8. (Preußisches) Infanterie-Regiment
01.03.1928 General der Infanterie Leopold Freiherr von Ledebur : Infanterie-Regiment 16
01.01.1929 General der Infanterie Erich Wöllwarth : Infanterie-Regiment 15
01.04.1929 General der Infanterie Otto Hasse : Infanterie-Regiment 7
01.10.1929 General der Infanterie Hermann Reinicke : Infanterie-Regiment 3
01.10.1929 General der Infanterie Friedrich Freiherr von Esebeck : Infanterie-Regiment 8
01.10.1929 General der Infanterie Joachim von Amsberg : Infanterie-Regiment 17
01.12.1929 General der Infanterie Adolf Ritter von Ruith : Infanterie-Regiment 19
01.12.1929 General der Kavallerie Hugo von Kayser : 3. (Preußisches) Reiter-Regiment
01.01.1930 Generaloberst Wilhelm Heye : 1. (Preußisches) Infanterie-Regiment
01.02.1931 General der Infanterie Karl Ritter von Prager : 19. (Bayerische) Infanterie-Regiment
01.05.1931 General der Artillerie Max Föhrenbach : 1. (Preußisches) Artillerie-Regiment
01.10.1931 General der Infanterie Rudolf Schniewindt : 12. Infanterie-Regiment
01.11.1931 General der Infanterie Edwin von Stülpnagel : 4. (Preußisches) Infanterie-Regiment
01.12.1931 General der Infanterie Hans Freiherr Seutter von Lötzen : Infanterie-Regiment 16
01.01.1932 General der Infanterie Joachim von Stülpnagel : Infanterie-Regiment 17
01.10.1933 General der Kavallerie Kurt Freiherr von Gienanth : Kavallerie-Regiment 13
01.10.1933 General der Artillerie Erich Freiherr von dem Bussche-Ippenburg : Artillerie-Regiment 6
01.10.1933 General der Artillerie Alfred von Vollard-Bockelberg : Artillerie-Regiment 12
31.01.1934 Generaloberst Kurt Freiherr von Hammerstein-Equord : Generalstab des Heeres
01.10.1934 General der Infanterie Wolfgang Fleck : Infanterie-Regiment 9
01.11.1935 General der Panzertruppe Oswald Lutz : Panzer-Regiment 1
01.08.1936 General der Kavallerie Ewald von Kleist : Kavallerie-Regiment 8
01.10.1936 General der Kavallerie Franz Freiherr Kress von Kressenstein : Kavallerie-Regiment 17
01.03.1938 Generalfeldmarschall Wilhelm Ritter von Leeb : Artillerie-Regiment 7
01.11.1938 Generaloberst Ludwig Beck : Artillerie-Regiment 5
01.10.1939 Generaloberst Wilhelm Adam : Gebirgsjäger-Regiment 98



Sumber :

Foto Nachtjagd / Nachtjäger (Unit Pemburu Malam Luftwaffe)

Foto bersejarah yang memperlihatkan para "Mannschaft" (anggota) Fliegerhorst Leeuwarden, Belanda, sekitar tahun 1942. Baris pertama (duduk), dari kiri ke kanan: Hauptmann Heinrich Ruppel (Nachtjagd Raumführer Leeuwarden), Hauptmann Siebeneicher (Kommandant Stabskompanie), Hauptmann Helmut Lent (Gruppenkommandeur II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 2), dan Hauptmann Julius Schürbel (Divisionsinspekteur). Baris kedua (berdiri di tengah), dari kiri ke kanan: Oberleutnant Paul Gildner (Flugzeugführer di 5.Staffel / II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 2), Leutnant Karl-Heinz Völlkopf (Flugzeugführer di 5.Staffel / II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 2), Oberleutnant Leopold "Poldi" Fellerer (Flugzeugführer di 5.Staffel / II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 1), Oberleutnant Rudolf Sigmund (Staffelkapitän 11.Staffel / IV.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 1), Oberinspektor Rhinow (Schreibstube/administrasi), Leutnant Johannes Richter (Tele-Offizier: radio+telepon+telex-kurir), Oberleutnant Egmont zur Lippe-Weissenfeld (Staffelkapitän 5.Staffel / II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 2), dan Dr. Schreiber (Dienstarzt/Medis). Baris ketiga (berdiri di belakang), dari kiri ke kanan: Leutnant Robert Denzel (Flugzeugführer di 6.Staffel / II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 2), Leutnant Wolfgang Kuthe (Flugzeugführer di 5.Staffel / II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 2), Oberleutnant Eberhard Gardiewski (Flugzeugführer di 6.Staffel / II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 2), Oberleutnant Josef Schauberger (Flugzeugführer di 10.Staffel / IV.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 1), Oberleutnant Herman Greiner (Flugzeugführer di 4.Staffel / II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 2), Oberleutnant der Reserve Ludwig Becker (Staffelkapitän 12.Staffel / IV.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 1), dan Leutnant Oskar Köstler (Flugzeugführer di 10.Staffel / IV.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 1).



Dari kiri ke kanan: Major Helmut Lent (Geschwaderkommodore Nachtjagdgeschwader 3) bersama dengan Hauptmann Heinrich Ruppel (Nachtjagd Raumführer Leeuwarden / Area Controller Leeuwarden), pada tahun 1943. Raumführer Ruppel adalah mantan pilot Kekaisaran Jerman dalam Perang Dunia Pertama, sementara dalam Perang Dunia Kedua dia diakui sebagai salah satu Kontroler pilot paling jempolan di seantero Nachtjagd (Pemburu Malam).


"Die Deutsche Wochenschau" edisi Januari 1944 yang memperlihatkan para Nachtjäger (Pemburu Malam) sedang beraksi



Sumber :
Buku "Nachtjagd: Defenders of the Reich 1940-1943" karya Martin W. Bowman

Thursday, October 26, 2017

Foto 3. Fallschirmjäger-Division

KOMMANDEUR

Oberst Karl-Heinz Becker (2 Januari 1914 - 3 Oktober 2000) mengawali karirnya pada tanggal 10 Oktober 1934 saat bergabung dengan Landespolizeigruppe "General Göring", sebelum kemudian berpindah ke unit Pasukan Terjun Payung Jerman yang baru didirikan. Pada saat penyerbuan Jerman ke Pulau Kreta, Kompaniechef Becker berperan besar dalam mengalahkan gabungan pasukan Inggris, Australia dan Yunani di kota Heraklion, padahal pada saat itu dia dan pasukannya mengalami kelelahan luar biasa setelah bertempur nonstop selama berhari-hari. Atas jasa-jasanya, Becker dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 Juli 1941 sebagai Oberleutnant dan Chef 11.Kompanie / III.Bataillon / Fallschirmjäger-Regiment 1 / 7.Flieger-Division / XI.Fliegerkorps / Luftflotte IV. Setelah itu dia masih aktif bertempur di Rusia dan Prancis, dari komandan kompi sampai menjadi komandan resimen. Becker dianugerahi Eichenlaub #780 untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 12 Maret 1945 sebagai Oberstleutnant dan Kommandeur Fallschirmjäger-Regiment 5 / 3.Fallschirmjäger-Division / LXXIV.Armeekorps / 5.Armee, setelah berhasil mementahkan serangan balasan pasukan Amerika di wilayah Bullange, Honsfeld, Bucholz, dan Berk, yang merupakan bagian dari Pertempuran Ardennes. Pada tanggal 8 Maret 1945 Oberst Becker dipercaya untuk menjadi Komandan 3. Fallschirmjäger-Division, sampai dengan menyerahnya pada tanggal 8 April 1945. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Wehrmacht-Dienstauszeichnung, IV. Klasse; Eisernes Kreuz II.Klasse (15 Oktober 1939) und I.Klasse (31 Mei 1940); Fallschirmschützenabzeichen der Luftwaffe; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1942); Ärmelband "Kreta“; Verwundetenabzeichen in Schwarz (7 Februari 1943); Nahkampfspange in Bronze; Deutsches Kreuz in Gold (29 Juni 1944); serta Nahkampfspange in Silber (6 Februari 1945). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht (29 Juli 1944)


Sumber :
www.de.metapedia.org

Foto 10. U-Flottille (10. Unterseebootsflottille)

13 Juli 1942: Kapitänleutnant Günter Kuhnke (kiri, Kommandant U-125) menyambut rekan sesama kapten U-boat, Kapitänleutnant Helmut Witte (Kommandant U-159), yang baru saja pulang ke pangkalan 10th U-boat Flottilla (10. Unterseebootsflottille) yang terletak di Lorient, Prancis, setelah menenggelamkan 12 kapal di perairan Amerika dalam patroli keduanya. Atas prestasinya yang menawan tersebut - ditambah dengan korban-korban lain yang menyusul di patroli selanjutnya - Witte dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 22 Oktober 1942. Kuhnke sendiri telah mendapatkan medali yang sama setahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 19 September 1940 sebagai Kapitänleutnant dan Kommandant U-28


Sumber :

Wednesday, October 25, 2017

Foto Kuburan Third Reich di Masa Perang Dunia II


Oberleutnant Johannes Brandenburg merupakan Staffelführer di 2.Staffel/Stukageschwader 2 "Immelmann". Dia terbunuh tanggal 28 Februari 1942 di selatan Dobrovo (Rusia) sebagai Staffelkapitän 4.Staffel/Kampfgeschwader 1 "Hindenburg", dan kemudian pangkatnya dinaikkan menjadi Hauptmann secara anumerta. Dia sendiri merupakan peraih Ritterkreuz yang didapatkannya tanggal 18 September 1940


Major Hans-Detloff von Cossel (1 Juli 1916 - 22 Juli 1943) yang merupakan komandan I.Abteilung / Panzer-Regiment 35 / 4.Panzer-Division gugur dalam pertempuran antar tank (panzerbesatzung) di Shukowka, Orel (Rusia), tanggal 22 Juli 1943 selama berlangsungnya Operasi Kutuzov. Saat itu panzer yang ditungganginya dilempari granat oleh tentara Rusia sehingga terbakar. Tiga orang awaknya terbunuh (termasuk Cossel) sementara dua lagi selamat. Di latar belakang adalah dua kuburan awak Panzer Cossel yang gugur di hari yang sama: Obergefreiter Nikolaus Schuster (26 November 1921 - 22 Juli 1943) dan Feldwebel Berthold "Bertl" Cramer (30 April 1917 - 22 Juli 1943). Semua kuburan ini kelak diratakan kembali oleh pasukan Wehrmacht yang mundur demi menghindari dihancurkan atau dijarah oleh Tentara Merah. Kuburannya sendiri terletak di Kromy, Orel, di sebuah kebun buah-buahan yang terletak di kaki bukit


Oberstleutnant Walter Ehle (28 April 1912 - 17 November 1943). Major Ehle (Gruppenkommandeur II.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 1) tewas dalam sebuah kecelakaan udara di malam tanggal 17 November 1943. Di malam naas itu (tepatnya pukul 20:20), pesawat Messerschmitt Bf 110 yang dipiloti oleh Ehle mengalami masalah teknis sehingga dia berusaha mendaratkan pesawatnya secara darurat di sebuah lapangan rumput yang terletak di Horpmaal, Belgia (sekitar 10km dari pangkalannya di Brustum). Sialnya, saat berusaha mendarat ternyata lampu pesawat padam sehingga pesawat Ehle menghantam daratan dan hancur seketika. Selain Ehle, ikut gugur pula dua orang awaknya: Oberfeldwebel Ludwig Leidenbach (Bordfunker, radio/wireless operator) dan Unteroffizier Heinz Derlitzky (Bordschütze, aerial gunner). Jenazah mereka bertiga kemudian dikebumikan di Deutscher Soldatenfriedhof Lommel (Belgia), Blok 21 kuburan ke-42. Secara anumerta pangkatnya dinaikkan dari Major menjadi Oberstleutnant


Kuburan Theodor Eicke di Otdochnina. Tidak seperti kuburan Wehrmacht dengan salib Kristen, kuburan-kuburan anggota Waffen-SS selalu berbentuk Toten-Rune yang merupakan simbol kematian kaum pagan Jerman kuno. Simbol ini (bersama dengan Leben-Rune yang berbentuk sama tapi mengarah ke atas) sampai saat ini selalu digunakan dalam banyak tulisan untuk menggambarkan kelahiran dan kematian. Setelah kematiannya tanggal 26 Februari 1943, Eicke digambarkan oleh pers Nazi sebagai seorang pahlawan, dan kemudian sebuah resimen infanteri Totenkopf mendapat kehormatan dengan penyematan ärmelstreifen (strip lengan) "Theodor Eicke". Pada awalnya Eicke dikebumikan di Deutscher Soldatenfriedhof (Kuburan Prajurit Jerman) Otdochnina di dekat Orelka (Rusia), tapi kemudian pada bulan September 1943 Himmler memerintahkan agar jenazahnya digali dan dikubur ulang di Deutscher Soldatenfriedhof Hegewald di Zhitomir. Ketika pasukan Wehrmacht mundur massal dari Front Timur tahun 1944, jenazah sang komandan Totenkopf masih terkubur disana


Anton 'Toni' Hafner (1918-1944). Tanggal 16 Oktober 1944, Hafner (salah satu jagoan Luftwaffe ternama) menembak jatuh 4 buah pesawat tempur musuh sehingga mengerek skor kemenangannya mencapai angka 200. Kemenangan ke-204 sekaligus terakhir Hafner adalah sebuah pesawat Yak-7 Rusia tanggal 17 Oktober 1944. Sayangnya, dalam dog fight tersebut pesawat Messerschmitt Bf 109 G-6 (Werknummer 442 013)-nya menabrak pohon yang secara instant membunuh sang pilot peraih skor tertinggi dari JG 51 "Mölders" ini. Saya ambil foto di atas dari koleksi LIFE. Cubluknya, disana disebutkan bahwa foto ini diambil bulan Maret 1942... WTF?


Oberst Fritz Iwand (1898-1941). Dia terbunuh tanggal 27 Juli 1941 akibat terkena bom udara di Tschernyj Rutschej, Bjeloy (Rusia). Waktu itu dia menjabat sebagai komandan I.Bataillon/Schützen-Regiment 10/9.Panzer-Division. Kuburannya tidak dipindahkan ke Soldatenfriedhof (kuburan prajurit perang), melainkan tetap ditempat dia pertama dikubur yaitu di antara pohon ek yang berada di pinggir sebelah timur danau Orda, 4,8km barat daya Tschornnyj Rutschej




 Oberleutnant Otto Schulz (29 Mei 1915 - 6 April 1941) adalah Ritterkreuzträger dari Infanterie-Regiment 125 yang meraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 19 Juni 1940 sebagai Chef 3. Kompanie. Dia terluka dalam pertempuran di selatan Promachon (Yunani, dekat perbatasan dengan Bulgaria), di hari pertama serangan terhadap Benteng Usita di Celah Rupel bulan April 1941 dan kemudian ditembak mati di kepala saat serangan balik pasukan Yunani. Ritterkreuz yang tergantung di lehernya dirampas. Dalam keadaan inilah dia ditemukan oleh pasukan Jerman. Foto atas memperlihatkan dua orang prajurit Bulgaria sedang berdiri di dekat kuburannya (yang telah mendapat rangkaian bunga), sementara foto bawahnya memperlihatkan Major Karl Ens (kedua dari kiri), Kommandeur II.Bataillon / Infanterie-Regiment 125, sedang berpidato di hadapan anakbuahnya tanggal 10 April 1941, beberapa hari setelah Schulz kehilangan nyawanya


Oberstleutnant Adalbert Weitzel (komandan Panzergrenadier-Regiment 6/7.Panzer-Division) terbunuh dalam pertempuran tanggal 17 Agustus 1944 di barat daya Schaulen. Secara anumerta dia dianugerahi Ritterkreuz sekaligus dipromosikan menjadi Oberst tanggal 23 Agustus 1944. Weitzel dimakamkan di B. Pagiriai, 10km timur-laut Kelme, Lithuania. Dia tercatat sebagai salah seorang penerima Deutsches Kreuz in Gold pertama tanggal 18 Oktober 1941 sewaktu masih menjadi Hauptmann dan komandan I.Bataillon/Schützen-Regiment 7


Foto yang diambil pada bulan Juni 1944 ini memperlihatkan kuburan pertama dari SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Fritz Witt (mantan komandan pertama 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend") di halaman Chateau de la Guillerie di Tillieres sur Avre, Prancis. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Cimetière militaire allemand de Champigny-St. André, Blok 8 - baris 12 - kuburan no. 1027



Sumber :
Foto koleksi pribadi Paul Peters
Foto koleksi pribadi Rob Hopmans
www.ww2gravestone.com