Monday, November 28, 2016

Koleksi Lukisan Karya Canaletto


Giovanni Antonio Canal (18 Oktober 1697 - 19 April 1768), yang lebih dikenal sebagai "Canaletto" (Canal Kecil), adalah pelukis Italia abad ke-18 yang terkenal melalui karya-karya landscape, atau vedute, dari Venesia. Dia adalah anak dari Bernardo Canal yang juga adalah seorang pelukis. Canaletto tinggal di Inggris selama periode 1746-56 dan menciptakan banyak pula lukisan pemandangan disana - meskipun popularitas serta kualitasnya disebut-sebut kalah jauh bila dibandingkan dengan karya-karya awalnya semasa di Venesia. Canaletto mempunyai kelebihan khusus dimana lukisan-lukisannya dianggap menampilkan "pemandangan perkotaan yang menggugah". Karyanya yang paling terkenal adalah "The Stonemason´s Yard" (Halaman Tukang Batu), yang dibuat pada tahun 1725. Lukisan ini kemudian dipersembahkan untuk Sir George Beaumont pada tahun 1823/8. Canaletto, bersama dengan Giambattista Pittoni, Giovan Battista Tiepolo, Giovan Battista Piazzetta, Giuseppe Maria Crespi dan Francesco Guardi, tergabung dalam kelompok pelukis Venesia terkemuka pada masanya

------------------------------------------------------------------------


 San Cristoforo, San Michele and Murano from the Fondamenta Nuove (1722-23)


Grand Canal, Looking Northeast from Palazo Balbi toward the Rialto Bridge (1723-24)


 Grand Canal, Looking East from the Campo San Vio (1723-24)
 
 
 Piazza San Marco (1723-24)


Rio dei Mendicanti (1723-24)


 The Grand Canal, Looking North-East from Palazzo Balbi to the Rialto Bridge (1724)


 The Grand Canal with the Rialto Bridge in the Background (1724-25)


 The Stonemason's Yard (1725)


 Bucentaur's return to the pier by the Palazzo Ducale (1727-29)


The Entrance to the Grand Canal, Venice (1730) 


 Piazza San Marco with the Basilica, Venice (1730-34)


 View of the entrance to the Venetian Arsenal (1732)


The Grand Canal from Palazzo Flangini to Campo San Marcuola (1738)


Rome: Ruins of the Forum, Looking towards the Capitol (1742)


 London: Seen Through an Arch of Westminster Bridge (1746-47)


 Westminster Bridge, with the Lord Mayor's Procession on the Thames (1747)


Westminster Abbey (1749)


 The Strand front of Northumberland House (1752)


Sumber :
www.canalettogallery.com
www.en.wikipedia.org
www.wga.hu

Foto Partisan Yugoslavia

 Foto ini memperlihatkan saat seorang perempuan anggota Partisan yang tertangkap oleh Jerman, Rajna Radić, mengkhianati rekan seperjuangannya dengan memberikan informasi kepada para penangkapnya. Berdasarkan sumber propaganda Jerman, dia bahkan menawarkan diri untuk memperlihatkan lokasi persembunyian teman-temannya dengan berkata: "Disanalah mereka, di lembah itu. Aku akan menunjukkannya sendiri pada kalian!" Rajna Radić tertangkap oleh prajurit-prajurit dari 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" (di sebelah kiri) dan Grenadier-Regiment 92 (di belakang, memakai tropenmütze). Foto diambil pada tahun 1944 di wilayah Bosnia-Herzegovina (Yugoslavia) 


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Tuesday, November 22, 2016

Foto Yugoslavia di Masa Pendudukan Jerman (1941-1945)

Jermanisasi di wilayah Spodnja Štajerska (Styria Bawah/Lower Styria/Untersteiermark): para anggota dari Schutzpolizei (Security Police) dan Ordnungspolizei (Order Police) - bagian dari Höhere SS- und Polizeiführer Alpenland - mengambil dengan paksa anak-anak dari ibu mereka yang putus as di wilayah Celje, Yugoslavia (di halaman sekolah yang sekarang bernama I osnovne škole). Anak-anak itu akan dibawa ke kamp-kamp di Reich untuk dididik ulang dan dibesarkan sebagai orang-orang Jerman. Foto diambil oleh Josip Pelikan pada bulan Agustus 1942


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Saturday, November 19, 2016

Buku Batalion Panzer Jerman karya Joseph Lebani


Penulis : Joseph Lebani
Penerbit : Narasi (Bukit)
ISBN : 9789791684934
Terbit pertama : 15 Agustus 2016
Ketebalan : 528 halaman
Ukuran : 19 x 26 cm
Berat : 1,2 kilogram
Sampul : Soft cover

Pada masa Perang Dunia II pihak Jerman membentuk satuan-satuan tank berat setingkat batalyon yang biasa dinamakan sebagai schwere Panzer-Abteilung (Detasemen Tank Berat). Unit ini diperkuat oleh Panzerkampfwagen VII Tiger dan Königstiger sebagai senjata utama. Dengan meriam kaliber 88mm, bisa dibilang bahwa "monster-monster" ini hampir tak ada tandingannya dalam pertempuran melawan tank-tank Sekutu dan Rusia. Dari tahun 1942 s/d 1945, tercatat ada 13 buah batalyon yang dibentuk, 10 dari Heer (schwere Panzer-Abteilung 501 s/d 510) dan 3 dari Waffen-SS (schwere SS Panzer-Abteilung 501/101 s.d 503/103). Bukti ketangguhannya yang luar biasa adalah bahwa, batalyon-baatalyon ini mampu menghancurkan 9.850 tank musuh, sementara hanya kehilangan 1.715 tank milik sendiri - itupun kebanyakan rusak karena masalah mesin ataupun kehabisan bahan bakar. Ini berarti bahwa untuk memusnahkan satu tank berat Jerman, dibutuhkan 5-6 tank musuh yang menjadi "tumbal" untuk melakukannya!

Batalyon-batalyon ini menghasilkan pula jagoan-jagoan perang yang jempolan, yang mampu menghancurkan puluhan atau ratusan tank musuh (baik sebagai komandan tank ataupun penembak meriam). Nama-nama seperti Michael Wittmann, Otto Carius, Kurt Knispel, Bobby Woll dan lain-lain akan selamanya tercatat dalam sejarah sebagai master-master pertempuran tank yang mampu memaksimalkan kemampuan mesin perang mereka yang luar biasa.

Semua itu dibahas secara mendetail dalam buku karangan teman saya Joseph Lebani ini. Mulai dari pembentukannya, hari-perhari operasi serta nasibnya di akhir perang dikupas tuntas tas. Tidak lupa pula ratusan ilustrasi yang menghiasi hampir setiap halaman, yang membantu para pembacanya dalam "mencerna" isi buku, membuat kegiatan membaca buku ini menjadi sesuatu yang menyenangkan dan tidak menjemukan. Setiap halamannya akan membuat Anda seolah menyaksikan langsung detail peristiwa yang terjadi di berbagai medan tempur, hingga terlihat jelas kelebihan, kekurangan, serta perbedaan-perbedaan formasi, taktik, dan kemampuan manuver antara tank Sekutu dengan tank Jerman dalam Perang Dunia II, perang terbesar dalam sejarah dunia modern.

Bila anda berminat untuk memilikinya, maka bisa membeli di toko-toko buku setempat semisal Gramedia dan Gunung Agung, atau bisa juga menghubungi langsung pengarangnya di FACEBOOK beliau. Yang jelas, ini buku WAJIB para penikmat sejarah Perang Dunia II, khususnya pihak Axis dan Jerman!




Monday, November 14, 2016

Foto Kejahatan Perang Nazi dan Wehrmacht

JERMANISASI ANAK WILAYAH PENDUDUKAN

Jermanisasi di wilayah Spodnja Štajerska (Styria Bawah/Lower Styria/Untersteiermark): para anggota dari Schutzpolizei (Security Police) dan Ordnungspolizei (Order Police) - bagian dari Höhere SS- und Polizeiführer Alpenland - mengambil dengan paksa anak-anak dari ibu mereka yang putus as di wilayah Celje, Yugoslavia (di halaman sekolah yang sekarang bernama I osnovne škole). Anak-anak itu akan dibawa ke kamp-kamp di Reich untuk dididik ulang dan dibesarkan sebagai orang-orang Jerman. Foto diambil oleh Josip Pelikan pada bulan Agustus 1942

----------------------------------------------------------------------

TOKOH-TOKOH BRUTAL

Para prajurit dari I.Bataillon / SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 2 / SS-Freiwilligen-Division "Prinz Eugen" berlatih memanjat gunung di salah satu tempat di Serbia, bulan November 1942. Hanya beberapa minggu sebelumnya, dalam aksi tempur pertama mereka, batalyon ini sudah melakukan tindakan kekejaman terhadap warga sipil (termasuk diantaranya adalah yang terjadi di Kriva Reka, dimana mereka meledakkan sekelompok orang dalam sebuah gereja!). Foto ini terbilang langka karena memperlihatkan komandan mereka, SS-Sturmbannführer Richard Kaaserer (nongkrong di atas bebatuan tanpa mengenakan topi), yang nantinya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu kriminal paling buas di medan perang Yugoslavia dalam Perang Dunia II! Di luar dari kegiatan "rutin" menyiksa warga sipil tak berdosa, Kaaserer juga berulangkali menyiksa prajuritnya sendiri, dan pernah diajukan ke mahkamah militer SS karena masalah ini! Dia dituduh telah memukul, menendang dan mencambuk anakbuahnya saat pelatihan sedang berlangsung; menggilas salah satu dari mereka menggunakan kuda; menahan satu kompi penuh dalam posisi "siaga" dibawah terik matahari sampai beberapa diantaranya jatuh pingsan; dan bahkan menembak salah seorang diantaranya! Pengadilan SS menyatakan bahwa kekejiannya bersumber dari ketidakstabilan mentalnya (sesuatu yang dianggap bukan masalah serius) - dan Kaaserer diizinkan untuk melanjutkan karirnya di Yugoslavia, sampai akhirnya menjadi SS- und Polizeiführer (SSPF) Sandschak dengan pangkat SS-Oberführer. Sikap brutal serta memandang rendah terhadap anakbuahnya sendiri - yang kebanyakannya berasal dari kalangan petani - kemungkinan besar berimbas pada kekejaman batalyon pimpinan Kaaserer terhadap warga sipil yang mengikuti kemudian (seperti yang saama diketahui: kekerasan hanya akan berujung pada kekerasan lainnya). Bisa dibilang bahwa sang Bataillonkommandeur dan anakbuahnya adalah yang paling bertanggungjawab terhadap reputasi kriminal dari Divisi "Prinz Eugen", reputasi yang nantinya malah diperburuk oleh unit-unit lainnya, dan yang sampai sekarang dicatat dengan tinta hitam sejarah. Kaaserer menemui akhir hidupnya saat digantung di Beograd (Yugoslavia) pada bulan Januari 1947. Foto oleh SS-Kriegsberichter Homann

Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Foto Pegunungan dan Bukit Batu

Para prajurit dari I.Bataillon / SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 2 / SS-Freiwilligen-Division "Prinz Eugen" berlatih memanjat gunung di salah satu tempat di Serbia, bulan November 1942. Hanya beberapa minggu sebelumnya, dalam aksi tempur pertama mereka, batalyon ini sudah melakukan tindakan kekejaman terhadap warga sipil (termasuk diantaranya adalah yang terjadi di Kriva Reka, dimana mereka meledakkan sekelompok orang dalam sebuah gereja!). Foto ini terbilang langka karena memperlihatkan komandan mereka, SS-Sturmbannführer Richard Kaaserer (nongkrong di atas bebatuan tanpa mengenakan topi), yang nantinya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu kriminal paling buas di medan perang Yugoslavia dalam Perang Dunia II! Di luar dari kegiatan "rutin" menyiksa warga sipil tak berdosa, Kaaserer juga berulangkali menyiksa prajuritnya sendiri, dan pernah diajukan ke mahkamah militer SS karena masalah ini! Dia dituduh telah memukul, menendang dan mencambuk anakbuahnya saat pelatihan sedang berlangsung; menggilas salah satu dari mereka menggunakan kuda; menahan satu kompi penuh dalam posisi "siaga" dibawah terik matahari sampai beberapa diantaranya jatuh pingsan; dan bahkan menembak salah seorang diantaranya! Pengadilan SS menyatakan bahwa kekejiannya bersumber dari ketidakstabilan mentalnya (sesuatu yang dianggap bukan masalah serius) - dan Kaaserer diizinkan untuk melanjutkan karirnya di Yugoslavia, sampai akhirnya menjadi SS- und Polizeiführer (SSPF) Sandschak dengan pangkat SS-Oberführer. Sikap brutal serta memandang rendah terhadap anakbuahnya sendiri - yang kebanyakannya berasal dari kalangan petani - kemungkinan besar berimbas pada kekejaman batalyon pimpinan Kaaserer terhadap warga sipil yang mengikuti kemudian (seperti yang saama diketahui: kekerasan hanya akan berujung pada kekerasan lainnya). Bisa dibilang bahwa sang Bataillonkommandeur dan anakbuahnya adalah yang paling bertanggungjawab terhadap reputasi kriminal dari Divisi "Prinz Eugen", reputasi yang nantinya malah diperburuk oleh unit-unit lainnya, dan yang sampai sekarang dicatat dengan tinta hitam sejarah. Kaaserer menemui akhir hidupnya saat digantung di Beograd (Yugoslavia) pada bulan Januari 1947. Foto oleh SS-Kriegsberichter Homann 


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Foto Fall Schwarz (15 Mei 1943 - 16 Juni 1943)

 Fall Schwarz, 20 Mei 1943: Para legiuner Kroasia yang merupakan anggota dari 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division" dengan terburu-buru membawa rekan mereka yang terluka dalam pertempuran melawan pasukan Partisan Yugoslavia di lembah Ćehotina yang terletak di dekat Gradac (Pljevlja). Dengan dukungan penuh kekuatan udara, divisi yang anggotanya sebagian besar adalah sukarelawan Kroasia tersebut berhasil memukul mundur kekuatan musuh yang berasal dari 6. Istočnobosansku Brigadu (Brigade Bosnia Timur ke-6), 3. Dalmatinsku Brigadu (Brigade Dalmatia ke-3), dan 7. Banijsku Brigadu (Brigade Banija ke-7)


  Fall Schwarz, 15 Mei s/d 16 Juni 1943: SS-Sturmbannführer Bernhard Dietsche (kedua dari kiri, Kommandeur II.Bataillon / SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 2 / SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen") berbincang-bincang dengan Letnan-Dua S. Samardžić (kedua dari kanan, Komandan sebuah brigade Chetnik) di sebuah tempat di Bosnia-Herzegovina (Yugoslavia). Di tahun itu Samardžić tertangkap oleh pasukan Jerman dan ditawan di Penjara Zenica - meskipun pada akhirnya dia berhasil meloloskan diri tak lama kemudian



Sumber :

Foto 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division"

Para perwira dari Verstarken Kroatischen Infanterie Regiment 369 berfoto bersama seusai upacara penganugerahan medali di Golubinskaya, Volgogradskaya Oblast, Rusia, pada tanggal 24 September 1942 di acara kunjungan Poglavnik Ante Pavelić ke markas besar 6. Armee. Dari kiri ke kanan: Major Tomislav Brajković, Oberleutnant Blago Zlomislić, Hauptmann artileri Vasilije Maljgin, dan seorang perwira Jerman tak dikenal. Dengan bangga mereka mengenakan medali yang baru saja mereka peroleh, yang merupakan perpaduan dari medali Jerman serta Kroasia: Eisernes Kreuz II. Klasse, Željezni trolist (Kroatisches Eisernes Dreiblatt/Croatian Military Order of the Iron Trefoil), dan Red krune kralja Zvonimira (Kroatisches Kriegsordens der Krone des Königs Zvonimir/Croatian Order of the Crown of King Zvonimir). Dua perwira di tengah mengenakan Croation Legion 1941 Linden Leaf Badge di bagian samping M38 feldmütze mereka


General Pukovnik (Letnan-Jenderal) Vilko Begić, Sekretaris Negara di Kementerian Peperangan NDH Kroasia, memberikan selamat kepada para prajurit dari 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division" dalam upacara penganugerahan medali yang diadakan setelah berakhirnya Unternehmen Weiß (Operasi Putih). Upacara diadakan di lapangan udara Rajlovac yang terletak di dekat Sarajevo (Bosnia), tanggal 25 Maret 1943. Begić sendiri nantinya menjadi wakil dari pemimpin NDH, Ante Pavelić


 Fall Schwarz, 20 Mei 1943: Para legiuner Kroasia yang merupakan anggota dari 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division" dengan terburu-buru membawa rekan mereka yang terluka dalam pertempuran melawan pasukan Partisan Yugoslavia di lembah Ćehotina yang terletak di dekat Gradac (Pljevlja). Dengan dukungan penuh kekuatan udara, divisi yang anggotanya sebagian besar adalah sukarelawan Kroasia tersebut berhasil memukul mundur kekuatan musuh yang berasal dari 6. Istočnobosansku Brigadu (Brigade Bosnia Timur ke-6), 3. Dalmatinsku Brigadu (Brigade Dalmatia ke-3), dan 7. Banijsku Brigadu (Brigade Banija ke-7)


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com
www.wehrmacht-awards.com

Foto Pakaian dan Perlengkapan Jerman Hasil Rampasan


Foto terkenal yang memperlihatkan Private James W. "Jim" Flanagan (14 Maret 1923 - 8 Desember 2005), CoC 2nd platoon/502nd Parachute Infantry Regiment/101st Airborne Division, sedang memegang bendera Swastika hasil rampasan yang diambil di Marmion, Prancis, di pagi hari pertama serbuan Sekutu ke Normandia (6 Juni 1944)


Setelah pertempuran usai, para pemenang dari 3/502nd Parachute Infantry Regiment memamerkan hasil rampasan mereka: sebuah bendera Swastika! Dari kiri ke kanan: Lieutenant Colonel Robert G. Cole, 1st Sergeant Hubert Odom (DSC, G/502), Staff Sergeant Robert P. O'Reilly (HQ, 3/502), dan Major John P. Stopka (XO, 3/502)



Sumber :Buku "101st Airborne: The Screaming Eagles in World War II" karya Mark Bando

Sunday, November 13, 2016

Foto Hasil Karya Kriegsberichter Gerhard Garms

 Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan siluet para personil U-boat saat bertugas di “Brückenwache” (Pengawas Jembatan) ketika lautan sedang bergelora. Kondisi samudera semacam ini dapat memberikan ancaman tersendiri bagi para Pengawas Jembatan bila dia tidak memperhitungkan tinggi ombak yang datang. Pengawasan keadaan sekitar di ruang terbuka seperti ini adalah salah satu tugas awak U-boat yang paling penting. Memperhatikan empat penjuru mata angin bagaikan sebuah "tugas suci", dimana nasib dan kesuksesan kapal selam tergantung padanya. Kecerobohan dalam hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal. Pengawas Jembatan biasanya terdiri dari empat orang: satu perwira dan seorang lagi berdiri menghadap ke depan di menara pengawas, sementara satu bintara dan seorang lagi di belakang mereka. Dengan menggunakan teropong, setiap petugas jaga harus mengamati sektor bagian mereka yang telah ditentukan tanpa terhenti. Tiap lima menit sekali, masing-masing petugas harus memberikan laporan bahwa “Sektor ist frei melden” (sektor clear), bila memang begitu keadaannya. Peraturan melarang keras adanya percakapan antar petugas jaga. Laporan pengawasan harus dibuat dalam bahasa yang jelas dan tepat guna sambil menunjukkan jari ke arah yang dimaksud. Petugas jaga juga dilarang untuk merokok saat bertugas. Di wilayah dimana diperkirakan tak ada ancaman dari udara, awak U-boat lain diperbolehkan untuk ikut nongol di menara pengawas, sekedar untuk merokok, tapi tidak boleh lebih dari dua orang dalam sekaligus (di luar dari empat orang lain yang bertugas jaga). Di malam hari, merokok di menara pengawas sama sekali terlarang. Brückenwache diharapkan untuk lebih waspada lagi di wilayah-wilayah dimana potensi ancamannya sangat besar (Bay of Biscay dan Laut Utara), serta dalam situasi-situasi khusus. Termasuk diantara yang terakhir adalah saat kapal berhenti, senjata dek digunakan, berpapasan dengan kapal selam lain, serta dilamgsungkannya interogasi awak kapal musuh yang selamat. Pada saat-saat semacam ini, perhatian Brückenwache dengan mudah dapat teralihkan, sehingga berakibat pada terpecahnya konsentrasi. Bahaya serangan dadakan muncul terutama pada situasi tersebut. Karena efek cahaya matahari yang menyilaukan, para Petugas Jaga juga diwajibkan untuk mengenakan kacamata hitam ketika sang surya berada di kuadran mereka. Para petugas ini diganti setiap dua atau empat jam sekali, dengan interval masa pergantian tiap lima menit selama satu jam penuh. Hal ini untuk mencegah agar tidak terlalu banyak orang berada di menara pengawas saat tiba-tiba harus menyelam (crash dive), dan juga untuk memberi waktu bagi Petugas Jaga yang baru untuk beradaptasi dengan kegelapan atau cahaya. Khusus untuk malam hari, 15 menit sebelum waktu pergantian, Petugas Jaga baru terlebih dahulu memakai kacamata infra merah di bawah dek. Petugas Jaga lama hanya boleh pergi manakala yang menggantikannya sudah beradaptasi selama beberapa menit dengan lingkungan sekitarnya. Peraturan mensyaratkan bahwa Perwira Pengawas dan Petugas Jaga terbaik bekerja di waktu-waktu yang dianggap paling berbahaya. Penugasan Petugas Jaga sendiri merupakan kewenangan penuh dari kapten kapal. Saat laut bergelora dengan ombak tinggi mencapai menara pengawas, pekerjaan pengawasan semacam ini menjadi sebuah tugas yang menuntut kemampuan maksimal dari para awak U-boat. Bila angin, udara dingin, hujan atau kabut ikut hadir, maka orang-orang ini kadangkala sudah dalam keadaan lelah luar biasa saat tiba waktunya untuk diganti. Dalam kondisi alam yang tidak bersahabat tersebut, sang kapten biasanya memerintahkan para Petugas Jaga untuk memakai sabuk pengaman, yang dapat mencegah mereka terbawa ombak besar. Sabuk ini hanya bisa dilepas juga atas perintah kapten. Pintu keluar di menara pengawas selalu dalam keadaan tertutup apabila ombak sedang tinggi agar air tidak masuk ke dalam. Tanpa Brückenwache yang efisien, maka sebuah U-boat mempunyai kemungkinan yang kecil untuk selamat atau sukses dalam misinya


Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan saat “Brückenwache" (Pengawas Jembatan) sedang bekerja mengawasi kondisi sekitar tak lama setelah usainya badai lautan yang ganas. Mereka masih mengenakan jaket dan topi karet anti air yang merupakan perlengkapan wajib di saat kondisi laut sedang tidak bersahabat. Selain dari empat pengawas yang merupakan jumlah standar saat bertugas, terlihat pula seorang Obersteuermann (Kelasi Pertama) yang berada di balik periskop, sedang mempersiapkan alat sekstan (alat navigasi untuk menentukan sudut antara kapal dengan benda-benda lain, baik benda-benda di darat maupun benda angkasa) untuk keperluan “Sonne zu Schießen” (melihat matahari). Dia bertanggungjawab untuk keakuratan navigasi kapal dan memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk melihat posisi matahari demi menentukan arah kapalnya. Hanya sang Obersteuermann dan Kapten Kapal yang boleh menuliskan posisi serta arah U-boat mereka menuju. Foto berwarna ini juga memperlihatkan detail menarik yang tidak mungkin didapatkan dari foto hitam-putih biasa: beragam warna berbeda dari jaket karet yang mereka kenakan, dari krem sampai ke hijau pucat dan hijau gelap


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.3 - 2008